Penulis: Drs. KH. M. Idman Salewe, M.Th.I. & Dr. KM. Syamsuddin Semmang, M.Pd.
Editor: Drs. KH. M. Idman Salewe, M.Th.I.
Di tengah derasnya arus digital dan kecepatan zaman, manusia modern sering kali kehilangan ruang untuk mendengarkan dirinya sendiri. Kita terkoneksi dengan semua orang, tapi sering kali terputus dengan diri sendiri, bahkan lebih parahnya dengan Tuhan. Buku ini hadir sebagai panduan spiritual yang lembut namun tegas untuk mengajak kita berdamai dengan dunia digital tanpa kehilangan arah hidup. Melalui pendekatan Qur’ani, pembaca diajak melihat ulang bagaimana teknologi, jika disinari oleh wahyu, dapat menjadi alat cahaya, bukan sekadar alat pelarian.
Tak hanya soal digitalisasi, buku ini juga menelusuri dimensi penting lain yang sering diabaikan: alam dan ekologi. Dengan bahasa yang reflektif, bagian kedua buku ini membuka mata kita bahwa bumi bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ayat Tuhan yang hidup. Seruan untuk berhijrah secara ekologis bukan semata isu lingkungan, tetapi panggilan iman untuk kembali hidup selaras dengan ciptaan. Alam bukan cuma latar kehidupan, namun ia adalah bagian dari spiritualitas yang harus dijaga dengan cinta dan tanggung jawab.
Buku ini ditutup dengan ajakan untuk melakukan revolusi batin: membangun kesadaran baru sebagai manusia Qur’ani yang tangguh, berakhlak, dan berdaya di tengah dunia yang kian kompleks. Di tengah ketidakadilan, kegaduhan digital, dan krisis nilai, Al-Qur’an tak hanya memberi petunjuk arah, tapi juga membangkitkan keberanian untuk hadir secara utuh di dunia ini. Buku Jiwa yang Tertinggal Saat Dunia Terus Berlari adalah ajakan untuk berhenti sejenak, menata kembali hubungan kita dengan Tuhan, dengan alam, dan dengan sesama manusia agar jiwa kita tak lagi tertinggal, melainkan kembali berjalan dalam cahaya.
Ukuran: 14 x 21 cm
Jumlah Halaman: 191 hlm
ISBN: ___