Manusia, sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan dengan karunia akal, memiliki kedudukan istimewa dalam ekosistem kehidupan di bumi. Sebagai khalifah di bumi, manusia diberi tanggung jawab besar, bukan hanya untuk hidup, tetapi juga untuk mengelola dan memelihara keseimbangan alam. Tugas ini bukan perkara yang bisa dianggap enteng, sebab manusia, meskipun dikaruniai akal, juga memiliki nafsu yang dapat menyesatkan. Nafsu tersebut dapat membelenggu akal dan memicu lahirnya kebijakan yang hanya menguntungkan satu pihak atau kelompok tertentu, sementara kepentingan yang lebih luas justru diabaikan.
Untuk menjaga keseimbangan tersebut, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Al-Qur’an tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (habl minallah), tetapi juga hubungan antarmanusia (habl minannas) serta tanggung jawab terhadap alam. Al-Qur’an memberikan panduan agar manusia senantiasa menjaga hak-hak Tuhan, menghormati hak sesama, dan memelihara kelestarian alam. Dalam kaitan ini, terdapat dua konsep penting yang perlu diperhatikan, yaitu humanisme dan teosentrisme.
Humanisme merupakan pandangan yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan menempatkan martabat manusia sebagai salah satu perhatian utama. Dalam pandangan ini, hak asasi manusia, kebebasan, dan keadilan sosial menjadi nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Di sisi lain, teosentrisme menekankan bahwa kehidupan dan tindakan manusia harus berorientasi pada pengabdian kepada Tuhan. Keduanya, meskipun tampak berbeda, memiliki kedudukan yang saling melengkapi. Keseimbangan antara nilai-nilai kemanusiaan dan pengabdian kepada Tuhan sangat penting karena keduanya dapat saling menguatkan dalam membentuk kehidupan yang bermakna.
Namun, perkembangan zaman yang ditandai oleh modernisasi dan industrialisasi membawa dampak besar terhadap kehidupan manusia. Salah satu persoalan yang muncul adalah dehumanisasi, yaitu kondisi ketika nilai dan martabat manusia terabaikan. Dalam kehidupan modern, manusia sering kali terjebak dalam rutinitas yang menjauhkan mereka dari nilai-nilai moral dan spiritual. Kesibukan sehari-hari, kemajuan teknologi, serta sistem kapitalisme yang berkembang pesat dapat membuat manusia lupa akan tujuan hidup yang lebih besar, termasuk menjalani kehidupan dengan mencari rida Allah.
Pada titik ini, keseimbangan antara kepedulian terhadap sesama dan pengabdian kepada Tuhan menjadi semakin penting. Jika salah satu dari kedua aspek tersebut terabaikan, akan muncul ketimpangan yang dapat merugikan kehidupan manusia. Humanisme tanpa orientasi teologis berisiko kehilangan landasan spiritual, sedangkan teosentrisme yang tidak disertai kepedulian terhadap sesama dapat mengabaikan tanggung jawab sosial. Keduanya perlu berjalan beriringan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat.
Dalam pandangan Kuntowijoyo, iman dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Iman yang tidak diwujudkan dalam amal akan kehilangan makna praktisnya, sementara amal yang tidak dilandasi orientasi keimanan dapat kehilangan arah spiritual. Pemikiran ini relevan untuk menghadapi dehumanisasi yang terjadi ketika nilai-nilai kemanusiaan kurang mendapat tempat dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah industrialisasi, manusia membutuhkan landasan nilai agama yang kuat agar tidak terjebak dalam perkembangan teknologi dan sistem sosial-ekonomi yang semata-mata mengejar kepentingan duniawi.
Ilmu pengetahuan dan agama, menurut pemikiran Kuntowijoyo, perlu berjalan secara harmonis. Keduanya memiliki peran penting dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan tanpa orientasi nilai berisiko kehilangan arah dan tujuan, sedangkan agama tanpa pemahaman terhadap ilmu pengetahuan dapat menghadapi kesulitan dalam merespons persoalan kehidupan modern yang semakin kompleks. Karena itu, keduanya perlu saling melengkapi agar manusia mampu mengembangkan pengetahuan sekaligus menggunakannya secara bertanggung jawab.
Konsep humanisme teosentris, yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan dengan keyakinan religius, telah menjadi objek kajian dalam berbagai penelitian. Salah satu kajian membahas pemikiran Kuntowijoyo melalui tiga fase dialektika, yaitu realitas eksternal, objektif, dan internal. Kajian tersebut menunjukkan bagaimana interaksi antara ketiga fase itu membentuk pemikiran Kuntowijoyo tentang humanisme teosentris. Namun, kajian yang secara langsung menghubungkan pemikirannya dengan Al-Qur’an masih perlu dikembangkan.
Penelitian lain mengkaji pandangan dunia humanisme teosentris dalam novel Kantring Genjer-Genjer karya Teguh Winarsho. Dengan menggunakan teori strukturalisme genetik, penelitian tersebut membahas hubungan antara struktur teks, pandangan dunia pengarang, dan struktur sosial. Temuannya menunjukkan bahwa pandangan dunia pengarang dapat menjadi jembatan yang menghubungkan teks sastra dengan realitas sosial. Meski demikian, kajian ini terbatas pada medium sastra dan tidak secara langsung membahas pemikiran Kuntowijoyo.
Selain itu, terdapat penelitian yang membahas dimensi humanisme teosentris dalam filsafat pendidikan Islam, khususnya melalui pemikiran tiga tokoh, yaitu Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu Arabi. Meskipun memiliki pandangan yang berbeda, ketiganya menawarkan pemikiran yang dapat dikaitkan dengan pengembangan potensi manusia, pengabdian kepada Tuhan, dan hubungan dengan sesama. Namun, penelitian tersebut lebih berfokus pada pemikiran tokoh-tokoh klasik dan belum secara khusus membahas pemikiran kontemporer Kuntowijoyo.
Penelitian lain menyoroti pentingnya humanisme teosentris sebagai paradigma dalam filsafat pendidikan Islam, terutama melalui konsep tauhid dan ghāyat al-hayāh (tujuan hidup). Paradigma ini menawarkan pandangan holistik tentang pendidikan yang tidak hanya berfokus pada aspek intelektual, tetapi juga mencakup dimensi spiritual dan moral. Meskipun demikian, kajian tersebut lebih menitikberatkan aspek filosofis dan belum secara langsung mengkaji hubungan paradigma tersebut dengan Al-Qur’an.
Dalam sastra Islam Minangkabau, terdapat pula kajian mengenai nilai-nilai humanisme teosentris dalam nazam-nazam Minangkabau. Penelitian tersebut menggunakan metode hermeneutika Georg Gadamer untuk menggali makna di balik teks sastra. Hasilnya menunjukkan bahwa nazam-nazam tersebut mengandung nilai-nilai akhlak yang berorientasi pada Tuhan. Meski demikian, kajian ini terbatas pada medium sastra dan tidak membahas pemikiran Kuntowijoyo secara khusus.
Berdasarkan tinjauan terhadap berbagai penelitian terdahulu, pembahasan mengenai humanisme teosentris masih memiliki ruang untuk dikembangkan. Pertama, kajian ini akan membahas hubungan antara pemikiran humanisme teosentris Kuntowijoyo dan Al-Qur’an. Kedua, pembahasannya menggunakan pendekatan interdisipliner yang memadukan sosiologi, filsafat, dan teologi untuk memahami pemikiran Kuntowijoyo dalam konteks keislaman. Ketiga, kajian ini akan mengeksplorasi relevansi pemikiran Kuntowijoyo dalam menghadapi persoalan kontemporer, khususnya tantangan modernitas dan globalisasi.
Humanisme teosentris, sebagai konsep yang memadukan nilai-nilai kemanusiaan dengan pengabdian kepada Tuhan, memiliki relevansi penting dalam kehidupan modern. Di tengah perkembangan zaman, dehumanisasi dan kesenjangan sosial menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Dengan menjadikan nilai-nilai agama dan ilmu pengetahuan sebagai landasan kehidupan, manusia dapat membangun keseimbangan yang tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi sesama dan lingkungan.
Pada akhirnya, ilmu agama dan ilmu pengetahuan sama-sama memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, meskipun keduanya memiliki karakter dan ruang kajian yang berbeda. Dalam perspektif keimanan, ilmu merupakan karunia Allah yang perlu dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan pengetahuan, tetapi juga melalui penggunaannya secara bijaksana. Dengan menerapkan prinsip-prinsip humanisme teosentris yang memadukan pengabdian kepada Tuhan dan kepedulian terhadap sesama, manusia dapat membangun kehidupan yang lebih bermartabat, menjaga keseimbangan antara kepentingan duniawi dan orientasi akhirat, serta memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.













