- Judul Buku: Laskar Pelangi
- Penulis: Andrea Hirata
- Penerbit: PT Bentang Pustaka
- Cetakan: Ke-30, Agustus 2015
- Tebal: xiv + 529 halaman
- ISBN: 979-3062-79-7
Jika ditanya siapa novelis hebat di Indonesia, tentu nama Andrea Hirata tak akan terlupakan. Andrea adalah salah satu novelis Indonesia yang namanya terkenal di seantero negeri sejak diluncurkannya karya pertamanya, Laskar Pelangi.
Hadirnya Laskar Pelangi menjadi inspirasi bagi masa depan bangsa, tanpa membedakan ras, suku, pangkat, dan agama. Saat membaca, merenungkan, dan larut dalam ceritanya, sedikit banyak akan terbersit dalam pikiran pembaca bahwa karya ini bukanlah novel biasa. Kualitasnya tidak hanya terlihat dari label bestseller yang disematkan pada sampul depan, tetapi juga dari respons positif pembaca di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah komentar Vikas Swarup, penulis Slumdog Millionaire yang juga meraih kesuksesan internasional: “A wonderful tale about what a pack of school kids, two caring teachers and a powerful sense hope can achieve. I love it.” Sebuah cerita yang luar biasa tentang apa yang dapat diraih oleh sekelompok anak sekolah, dua guru yang penuh kepedulian, dan harapan yang kuat. Saya menyukainya.
Laskar Pelangi telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris dengan judul The Rainbow Troops, bahasa Jerman dengan judul Die Regenbogen Truppe, bahasa Prancis dengan judul Les Guerriers de l’arc-en-ciel, dan bahasa Belanda dengan judul De Regenboogrende. Novel ini juga diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar, seperti FSG, Random House, Penguin, Mercure de France, dan HarperCollins, serta menjangkau lebih dari 120 negara di lima benua, mulai dari Amerika Selatan dan Eropa Timur hingga Afrika (lihat sampul belakang Sang Pemimpi).
Pertanyaannya, apa kelebihan Laskar Pelangi hingga menuai pujian dan menjadi karya sastra yang diminati jutaan pembaca? Seperti apa kehebatan Andrea dalam berkisah dan merangkai kata demi kata hingga menghasilkan sebuah karya yang monumental? Bukankah novel ini merupakan karya manusia, sebagaimana karya sastra lainnya, bukan seperti Al-Qur’an yang diyakini sebagai firman Tuhan? Jika demikian, apa rahasia di balik popularitas karya Andrea yang begitu fenomenal ini?
Coba perhatikan judul novel ini: Laskar Pelangi. Puitis, bukan? Istilah yang terasa baru dan menarik. Tentu jawabannya, “Iya.” Judul itu memang terdengar puitis dan enak didengar. Selain itu, istilah tersebut terasa segar ketika pertama kali diperkenalkan. Tak lama setelah buku ini diluncurkan, istilah Laskar Pelangi tidak terdengar klise. Lantas, bagaimana dengan isinya? Apakah menarik? Apakah daya tariknya setara dengan kesan yang muncul saat pertama kali membaca judulnya?
Laskar Pelangi merupakan sebutan bagi sebelas siswa Sekolah Muhammadiyah di daerah Melayu Belitong. Mereka adalah Ikal—tokoh yang sering menggunakan kata ganti “aku” dan kerap dikaitkan dengan Andrea Hirata sendiri—Lintang, Mahar, Trapani, Harun, Syahdan, Flo, Samson, Kucai, A Kiong, dan Sahara. Nama “Laskar Pelangi” terinspirasi dari kebiasaan mereka menyaksikan pelangi di langit yang tampak indah. Saking indahnya pelangi yang merekah dan menghiasi langit, Mahar pun berkisah, “Jika berhasil melintasi pelangi maka kita akan bertemu dengan orang-orang Belitong tempo dulu dan nenek moyang orang-orang Sawang” (hlm. 161).
Sebagian besar anggota Laskar Pelangi berasal dari keluarga miskin dan hidup dalam keterbatasan, kecuali Flo. Sekolah mereka pun bukan sekolah terpandang seperti Sekolah PN Timah yang kaya raya. Kita bisa membayangkan kondisi Sekolah Muhammadiyah di Belitong: bangunannya sederhana dan kumuh, dindingnya terbuat dari kayu yang rentan roboh jika diterpa angin kencang, serta lokasinya terpencil. Kendati demikian, semangat kedua gurunya patut diacungi jempol. Mereka adalah Bu Muslimah dan Pak Harfan. Keduanya tidak pernah lelah mengajar. Beragam pelajaran, mulai dari sejarah dan matematika hingga Kemuhammadiyahan, mereka ajarkan. Mereka tidak mengeluh, pesimistis, ataupun frustrasi menghadapi keterbatasan.
Kemiskinan dan keterbelakangan bukanlah penghalang bagi mereka untuk mengubah nasib dan meraih kehidupan yang lebih baik. Mereka percaya bahwa Tuhan Maha Melihat dan Maha Mendengar. Karena itu, mereka memiliki cita-cita yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Di antara anggota Laskar Pelangi, selain Ikal, ada pula yang memiliki cita-cita istimewa. Sahara bercita-cita menjadi pejuang hak asasi manusia, A Kiong bermimpi menjadi kapten kapal, sedangkan Kucai ingin menjadi wakil rakyat atau anggota dewan.
“Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara meyakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku merasa menjadi manusia yang agak berguna” (hlm. 342).
Semangat pengabdian Bu Mus dan Pak Harfan dalam memperjuangkan pendidikan mengingatkan kita pada perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam menyuarakan pentingnya pendidikan. Keduanya mendidik murid-murid dengan sabar dan tulus.
Ada beberapa nilai pendidikan yang dapat dipetik dari kisah mereka. Pertama, kedisiplinan. Bu Mus menegur Mahar karena terlambat menyerahkan karyanya. Ia menegaskan, “Bukan karena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apa pun kita harus memiliki disiplin” (hlm. 190). Teguran ini menunjukkan bahwa kedisiplinan merupakan bagian penting dalam proses belajar.
Kedua, kesabaran dan kepatuhan. Bu Mus memberikan tugas kepada anggota Laskar Pelangi untuk menyiram bunga dan membeli kapur. Meskipun pekerjaan itu tidak selalu menyenangkan, tugas tersebut menjadi sarana untuk melatih kesabaran dan kepatuhan kepada guru.
Ketiga, menghormati guru. Menghormati guru merupakan nilai penting dalam tradisi pendidikan Islam. Hal ini mengingatkan kita pada ajaran dalam kitab Ta‘lim al-Muta‘allim karya Az-Zarnuji. Nilai tersebut juga tersirat dalam novel ini melalui perkataan, “Melawan guru sama hukumannya dengan melawan kedua orangtua, durhaka! Siksa dunia yang segera kauterima adalah burut! Pangkal pahamu akan membesar seperti timun suri hingga langkahmu ngangkang!” (hlm. 351). Perkataan itu disampaikan Kucai ketika memarahi Mahar yang membantah Bu Mus dan bersikeras mempertahankan kehendaknya untuk mempercayai ritual perdukunan. Para siswa merasa prihatin melihat wajah Bu Mus yang memerah.
Pendidikan yang ditanamkan selama bertahun-tahun ternyata tidak sia-sia. Semangat Bu Mus dan Pak Harfan mengantarkan para siswa menjadi juara dalam berbagai ajang bergengsi. Sekolah Muhammadiyah berhasil memenangkan lomba karnaval dan kompetisi kecerdasan melalui tiga siswa yang dianggap paling unggul dan menjanjikan, yaitu Ikal, Sahara, dan Lintang. Siapa yang tidak terharu? Air mata yang menetes bukan semata-mata karena kesedihan, melainkan juga karena kekaguman terhadap sekolah yang selama ini diremehkan, dikucilkan, dan diejek, tetapi akhirnya mampu meraih prestasi.
Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa keberhasilan tidak dapat dilepaskan dari usaha. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Pepatah ini mengingatkan kita bahwa perjuangan dan ketekunan merupakan bagian penting dalam meraih keberhasilan.
Tentang pentingnya usaha, Andrea juga menyelipkan pesan Tuk Bayan Tula kepada Mahar dan Flo melalui secarik kertas: “Kalau ingin lulus ujian, buka buku, belajar!” (hlm. 424). Pesan itu mereka peroleh ketika pergi menemui Tuk. Menariknya, meskipun Tuk digambarkan sebagai dukun sakti, ia tetap menekankan pentingnya usaha dalam menjalani kehidupan dan menghadapi takdir.
Itulah salah satu pesan pendidikan dalam novel ini. Namun, Laskar Pelangi tidak hanya berbicara tentang pendidikan. Andrea juga memperkaya ceritanya dengan kisah percintaan, kritik sosial, dan berbagai persoalan kehidupan. Kisah cinta yang diangkat adalah hubungan antara Ikal dan A Ling, seorang perempuan cantik yang membantu orang tuanya melayani pembeli. Benih cinta tumbuh ketika Ikal pertama kali melihat A Ling di toko saat menjalankan perintah Bu Mus untuk membeli kapur. Hal yang menarik perhatian Ikal adalah jari-jari A Ling yang indah. Ikal menggambarkan perasaannya melalui kalimat berikut: “Cinta kami adalah cinta yang bisu, cinta yang sederhana, dan cinta yang sangat malu, tapi indah, indah sekali tak terperikan” (hlm. 252).
Selain kisah percintaan, Andrea menyelipkan sejumlah kritik sosial dalam novelnya. Pertama, kritik terhadap sikap anti-seni. Banyak seniman hebat yang jarang memperoleh perhatian dan penghargaan yang layak. Gaya hidup serta pemikiran mereka yang cemerlang kerap disalahartikan. Tokoh Mahar menjadi salah satu gambaran persoalan tersebut.
Kedua, kritik terhadap keserakahan manusia. Hal ini terlihat dalam perayaan sembahyang rebut atau Chiong Si Ku, sebuah acara meriah yang dihadiri masyarakat Tionghoa. Dalam acara tersebut, masyarakat membawa beragam barang, mulai dari wajan, radio, transistor, dan televisi hingga kue, biskuit, serta gula. Perebutan barang berlangsung begitu sengit hingga banyak barang rusak akibat desakan, tarikan, dan dorongan. Ada yang hanya mendapatkan tombol radio, sementara yang lain memperoleh antenanya. Ironisnya, mereka tetap merasa puas asalkan orang lain tidak mendapatkan barang secara utuh. Adegan ini menggambarkan keserakahan manusia yang lebih mementingkan kepuasan pribadi daripada manfaat barang yang diperebutkan.
Ketiga, kritik terhadap ketergantungan pada praktik perdukunan. Dalam novel ini terdapat teguran, “Artinya Ananda tidak punya sebuah rencana yang positif, tak pernah lagi mau membaca buku dan mengerjakan PR karena menghabiskan waktu untuk kegiatan perdukunan yang membelakangi ayat-ayat Allah” (hlm. 350). Kritik ini menyoroti perilaku yang mengabaikan belajar dan usaha nyata demi mengandalkan praktik perdukunan.
Keempat, kritik terhadap kebiasaan merokok. Kritik tersebut tergambar melalui sosok seorang bapak yang menguji motivation letter Ikal untuk memperoleh beasiswa. Bapak itu digambarkan sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki kontribusi besar bagi bangsa, baik di dalam maupun di luar negeri (hlm. 462). Namun, ia memiliki kebiasaan merokok berat. Kontras ini menghadirkan kritik terhadap kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan.
Kelima, kritik terhadap kapitalisme. Andrea menggambarkan keruntuhan PN Timah sebagai perubahan yang membawa dampak bagi masyarakat setempat. Ia menulis, “Kehancuran PN Timah adalah kehancuran agen kapitalis yang membawa berkah bagi kaum yang selama ini terpinggirkan, yakni penduduk pribumi Belitong” (hlm. 485). Bagian ini memperlihatkan bagaimana perubahan struktur ekonomi dapat memengaruhi kehidupan masyarakat yang sebelumnya berada di pinggiran.
Sejauh membaca karya-karya Andrea, bukan hanya Laskar Pelangi, melainkan juga novel lainnya seperti Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, dan Ayah, saya melihat bahwa Andrea kerap menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan sesuatu. Dalam Laskar Pelangi, misalnya, ia menulis, “Seluruh bagian ini disirami sinar matahari dan aliran sungai payau tampak sampai jauh berkelok-kelok seperti cucuran perak yang dicairkan” (hlm. 180). Pada bagian lain, ia menggambarkan pengalamannya dengan mengatakan, “Setiap kali berdiri di bibir pantai aku selalu merasa terkejut, persis seperti pasukan Alexander Agung pertama kali menemukan India” (hlm. 179). Ia juga menulis, “Mammillaria harus diperlakukan dengan sopan seperti porselen mahal dari Tiongkok” (hlm. 192), serta, “Itulah kebun sekolah Muhammadiyah, indah dalam ketidakteraturan seperti lukisan Kandinsky” (hlm. 195).
Membaca novel ini, sejujurnya, saya terkadang merasa terharu, tertawa, terenyuh, bahkan terkejut hingga bergumam, “Masa iya!” Kisah dalam novel ini berangkat dari pengalaman hidup Andrea Hirata sendiri yang kaya akan konflik. Pengalaman tersebut kemudian diolah menjadi kisah yang terasa nyata, meskipun tetap merupakan karya fiksi yang diperkaya dengan imajinasi.
Pada akhirnya, Laskar Pelangi bukan sekadar novel tentang kehidupan sebelas anak di sebuah sekolah sederhana. Novel ini menghadirkan pesan tentang arti pendidikan, keteguhan mengejar cita-cita, ketulusan seorang guru, cinta, serta kritik terhadap berbagai persoalan sosial. Melalui kisah yang menyentuh dan bahasa yang kaya perumpamaan, Andrea Hirata mengajak pembaca untuk melihat bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari perjuangan. Justru dari keterbatasan, harapan dan keberanian untuk mengubah kehidupan dapat tumbuh.














