- Judul Buku: Sang Pemimpi
- Penulis: Andrea Hirata
- Penerbit: PT Bentang Pustaka
- Cetakan: 32, Maret 2015
- Tebal: 247 halaman
- ISBN: 979-3062-92-4
Setelah Laskar Pelangi diluncurkan dan menjadi booming, terbitlah novel Andrea Hirata berikutnya yang berjudul Sang Pemimpi. Jika Laskar Pelangi berkisah tentang perjalanan hidup Andrea—belajar bersama anggota Laskar Pelangi, berguru kepada Bu Muslimah dan Pak Harfan di Sekolah Muhammadiyah Belitong, serta pengalaman cintanya bersama A Ling—Sang Pemimpi, buku kedua dalam tetralogi Laskar Pelangi, mengisahkan perjalanan Andrea selanjutnya, baik dalam menempuh pendidikan maupun dalam kisah percintaannya.
Dalam novel ini, Andrea mengisahkan perjalanan hidupnya bukan lagi bersama dua guru favoritnya di Sekolah Muhammadiyah dan para anggota Laskar Pelangi, melainkan bersama dua teman barunya, yakni Arai dan Jimbron. Arai dan Jimbron memiliki latar belakang keluarga yang berbeda. Arai adalah sepupu jauh Ikal, sedangkan Jimbron merupakan teman dekatnya yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.
Kedekatan Ikal dengan Arai menghadirkan pelajaran berharga tentang arti penting kemandirian. Kemandirian merupakan salah satu kunci bagi seseorang untuk tumbuh dewasa. Arai terbiasa mencari akar banar untuk dijual di pasar. Akar tersebut dapat digunakan untuk menusuk insang ikan agar ikan mudah dibawa oleh pembeli. Selain itu, ia juga terbiasa mengambil akar purun, sejenis tumbuhan yang tumbuh di rawa-rawa. Akar ini dijual kepada pedagang kelontong untuk mengikat bungkus terasi. Begitulah kehidupan Arai. Siapa sangka, Arai dapat menjadi sosok yang mengajarkan Ikal tentang arti kemandirian, meskipun mereka masih memiliki hubungan keluarga dan berteman dekat.
Perjalanan hidup Jimbron juga tidak kalah menarik. Meskipun menjadi yatim dan taat menjalankan agamanya, yakni Islam, ia ditakdirkan Tuhan untuk diasuh oleh seorang pendeta Katolik yang telaten dan penuh perhatian. Kisah ini mengajarkan bahwa kerukunan tidak harus dibangun atas dasar persamaan agama, suku, ras, atau etnis. Dalam perbedaan sekalipun, manusia dituntut untuk hidup rukun, saling menghormati, dan menghindari sikap saling mencela, mencemooh, ataupun menindas.
Sikap hidup rukun tersebut ditunjukkan oleh Pendeta Geovanny, seorang pemeluk Katolik yang mengasuh Jimbron, yang jelas-jelas beragama Islam. “Pendeta berdarah Italia itu tak sedikitpun bermaksud mengubah keyakinan Jimbron. Dia malah tak pernah telat jika mengantarkan Jimbron mengaji ke masjid” (hlm. 49).
Ikal, Arai, dan Jimbron memiliki pengalaman yang sama ketika belajar di SMA Negeri Tanjong Pandan. Mereka sama-sama usil hingga membuat Pak Mustar, salah seorang guru di sekolah tersebut, geram dan marah. Namun, dalam hal kecerdasan dan prestasi akademik, ketiganya berbeda. Ikal dan Arai selalu memperoleh nilai yang baik di kelas. Ikal berada di peringkat ketiga, sedangkan Arai di peringkat kelima. Adapun Jimbron berada di peringkat dua puluh ke bawah.
Kesamaan lain di antara Ikal, Arai, dan Jimbron adalah mimpi besar mereka tentang masa depan. Mereka memiliki cita-cita yang tinggi, bahkan terasa mustahil jika melihat keterbatasan hidup yang mereka alami.
“Pada saat itulah, aku (Ikal), Arai, dan Jimbron, mengikrarkan suatu harapan yang ambisius: kami ingin dan harus sekolah ke Prancis! Ingin menginjakkan kaki di altar suci almamater Sorbonne, ingin menjelajah Eropa sampai ke Afrika. Begitu tinggi cita-cita itu. Mengingat keadaan kami yang amat terbatas, semua tak lebih dari impian saja. Tapi, di depan tokoh karismatik seperti Pak Balia, semuanya seakan mungkin!” (hlm. 62).
Keterbatasan hidup mereka tergambar pula dalam sosok Arai yang harus bekerja keras demi melanjutkan pendidikan.
“Arai tergeletak di atas selembar tikar purun, dengan seragam sekolah putih abu-abu yang dipakai untuk sekolah dan bekerja. Dia bangun pukul dua pagi untuk memikul ikan. Dia, seperti aku dan Jimbron, tak punya ‘kemewahan’ untuk memperhatikan diri sendiri. Yang tersisa untuk Arai, untuk kami, memang hanya semangat dan mimpi-mimpi” (hlm. 160).
Keterbatasan inilah yang mengajarkan mereka untuk memiliki komitmen hidup dan berpegang teguh pada nasihat guru mereka.
Guru, menurut pemahaman yang berkembang di masyarakat, sering dimaknai sebagai sosok yang digugu lan ditiru, yakni dipercaya perkataannya dan diteladani perilakunya. Setiap perkataan dan perbuatannya menjadi cermin bagi anak didik. Karena itu, guru harus memberikan teladan yang baik agar tidak berdampak buruk terhadap sikap dan perilaku murid-muridnya. Mereka perlu mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan agar masa depan anak didik terarah dan mereka tumbuh menjadi generasi ulama atau ilmuwan sejati.
Jangan patahkan semangat mereka hingga tumbuh menjadi pribadi yang pesimistis. Sebaliknya, motivasilah mereka untuk berani bermimpi demi meraih masa depan yang cemerlang. Perhatikan bagaimana Pak Balia menyampaikan motivasinya dengan penuh semangat di hadapan Ikal dan Arai. Meskipun cita-cita yang disampaikan itu tampak sulit diwujudkan, ia tetap menanamkan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil jika diperjuangkan.
“Jelajahi kemegahan Eropa sampai ke Afrika. Temukan berliannya budaya sampai ke Prancis. Langkahkan kakimu di atas altar suci almamater terhebat tiada tara: Sorbonne. Ikuti jejak-jejak Sartre, Louis Pasteur, Montesquieu, Voltaire. Di sanalah orang belajar science, sastra, dan seni hingga mengubah peradaban” (hlm. 61).
Keseriusan mereka dalam memperjuangkan kemandirian tidak lantas menghilangkan kejujuran terhadap suara hati. Mereka juga mengalami gejolak cinta. Ikal sejak dahulu terpesona oleh kecantikan A Ling. Arai pun jatuh hati kepada seorang gadis rupawan bernama Nurmala. Sementara itu, Jimbron yang lugu terpikat oleh paras Laksmi yang memukau.
Perjuangan meraih cinta semakin membakar semangat mereka. Salah satu contohnya adalah Arai yang rela meluangkan waktu untuk mempelajari semacam jampi-jampi agar dapat memikat hati seorang gadis. Ia belajar kepada Bang Zaitun, seorang musisi yang dianggap ahli dalam urusan asmara.
“Jika bisa memanfaatkannya secara baik, gitar sesungguhnya adalah benda yang besar pengaruhnya dalam kesuksesan romansa … hihihi ….” (hlm. 179), jelas Bang Zaitun kepada Arai dan Ikal sambil terkekeh.
Namun, jampi-jampi yang diajarkan Bang Zaitun ternyata bukanlah mantra ajaib. Rahasianya terletak pada kepandaian memainkan gitar. Ya, memetik gitar! Kemampuan itu terbukti ampuh bagi Bang Zaitun sendiri. Tidak sedikit perempuan yang tertarik kepadanya. Ia seolah-olah seperti gula yang dikerubungi semut karena rasanya manis.
Mimpi yang sekilas tampak absurd bukanlah sekadar khayalan kosong. Di dalamnya terdapat kekuatan harapan, keyakinan, dan usaha yang dapat menggerakkan seseorang untuk mewujudkan cita-citanya. Demikian pula mimpi Ikal dan Arai yang terinspirasi oleh petuah Pak Balia. Mereka akhirnya berhasil memperoleh beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Université de Paris, Sorbonne, Prancis, setelah bersaing dengan ribuan pelamar. Sorbonne, yang dahulu hanya mereka bayangkan sebagai almamater impian, serta Menara Eiffel yang menjadi ikon Paris, bukan lagi sekadar bayangan. Semua itu menjadi kenyataan.
Sang pemimpi bukanlah pengkhayal yang kosong akan makna. Mimpi adalah harapan yang dipelihara, diperjuangkan, dan disertai usaha. Dalam kisah Ikal dan Arai, mimpi seolah-olah dipeluk, didengar, dan disaksikan oleh Tuhan. Ketika mimpi itu akhirnya menjadi nyata, tanpa terasa mereka pun berdecak, “Masya Allah!”
Maka, jangan takut bermimpi. Tenunlah sejuta mimpi mulai sekarang, rawatlah dengan keyakinan, dan perjuangkan dengan kerja keras. Sebab, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Justru dari keterbatasan, mimpi besar dapat tumbuh dan mengantarkan seseorang menuju masa depan yang sebelumnya terasa mustahil.














